Kenyang Diprioritaskan, Pendidikan Ditinggalkan

- Penulis

Rabu, 21 Januari 2026 - 23:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi: Karpet merah ASN terbentang bagi pegawai MBG/BGN, sementara guru honorer terjatuh dalam ketidakpastian pengangkatan.Keterangan Redaksi: Ilustrasi simbolik sebagai kritik redaksi atas ketimpangan kebijakan pengangkatan aparatur negara. Tidak merepresentasikan individu atau peristiwa tertentu.

 

Oleh: Muhammad Arifin

Klaten, opinijogja – Negara tampaknya menemukan jalur cepat baru dalam pengangkatan aparatur sipil negara: dapur umum. Pegawai inti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan menyandang status ASN PPPK. Regulasi disiapkan, kepastian diberikan, dan proses dipercepat.

Pada saat yang sama, guru honorer kembali diminta bersabar.

Puluhan ribu guru honorer telah mengabdi bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, di ruang-ruang kelas dengan gaji minim dan status tak menentu. Mereka mengajar di daerah terpencil, menutup kekurangan negara, dan menjaga agar sekolah tetap berjalan. Namun hingga kini, pengangkatan mereka sebagai PPPK masih tersendat oleh kuota terbatas, seleksi berlapis, dan regulasi yang kerap berubah.

Ironinya, negara justru lebih sigap memberi kepastian pada pegawai program baru ketimbang menyelesaikan tanggung jawab lama terhadap guru honorer.

Tak ada yang menyangkal pentingnya gizi. Anak yang lapar sulit belajar. Namun negara keliru bila menganggap masa depan cukup dibangun dari perut yang kenyang. Pendidikan bukan sekadar pelengkap kebijakan sosial, melainkan fondasi utama kecerdasan bangsa. Tanpa guru yang sejahtera dan dihargai, ruang kelas hanya akan menjadi bangunan kosong tanpa arah.

Baca Juga:  Integrasi Nasional di Persimpangan: Antara Persatuan dan Penyeragaman

Kebijakan ini telanjang memperlihatkan ketimpangan skala prioritas. Jika pengabdian menjadi ukuran, guru honorer seharusnya berada di barisan terdepan. Jika pelayanan publik dijadikan alasan, pendidikan jelas tak kalah mendesak dibanding program gizi. Namun negara memilih jalan berbeda: cepat pada yang baru, lambat pada yang lama.

Situasi ini wajar memunculkan pertanyaan publik: apakah negara lebih membutuhkan dapur daripada ruang kelas? Apakah mencerdaskan kehidupan bangsa kini cukup dimaknai dengan memastikan rakyat kenyang, tanpa memastikan mereka cerdas?

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat konstitusi, bukan slogan seremonial. Selama guru honorer terus dipinggirkan dan pengabdiannya diperlakukan sebagai beban administratif, yang disiapkan negara bukan generasi unggul, melainkan generasi kenyang tanpa daya kritis.

Dan di titik itu, kebijakan gizi kehilangan maknanya, karena masa depan bangsa tak hanya ditentukan oleh nutrisi, tetapi oleh keadilan dan pengetahuan.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PKL: Korban Pembiaran yang Dihukum Negara
Dana Desa Menyusut, Demokrasi Desa Dipertaruhkan
Sepur dan Jejak Perubahan Zaman
Rel Kereta Api di Jawa: Infrastruktur Kolonial yang Terus Kita Warisi
Bangsa yang Tak Mau Mendengar
Diponegoro dan Perang Jawa: Kedaulatan yang Lahir dari Perlawanan
KUHP dan KUHAP Baru di Era Digital
Pungli Pariwisata dan Kebiasaan yang Dibiarkan
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 23:48 WIB

Kenyang Diprioritaskan, Pendidikan Ditinggalkan

Minggu, 18 Januari 2026 - 12:38 WIB

PKL: Korban Pembiaran yang Dihukum Negara

Kamis, 15 Januari 2026 - 02:27 WIB

Dana Desa Menyusut, Demokrasi Desa Dipertaruhkan

Selasa, 13 Januari 2026 - 08:53 WIB

Sepur dan Jejak Perubahan Zaman

Selasa, 13 Januari 2026 - 00:03 WIB

Rel Kereta Api di Jawa: Infrastruktur Kolonial yang Terus Kita Warisi

Berita Terbaru

Opinijogja

Kenyang Diprioritaskan, Pendidikan Ditinggalkan

Rabu, 21 Jan 2026 - 23:48 WIB