Budaya Lokal di Bawah Bayang-Bayang Algoritma

- Penulis

Jumat, 2 Januari 2026 - 08:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Muhammad Arifin 

 

Ketika media sosial membentuk selera generasi muda dan seni tradisi kian terpinggirkan.

 

Oleh: Muhammad Arifin 

Yogyakarta, opinijogja – Perkembangan budaya dan seni modern adalah keniscayaan. Teknologi digital, terutama media sosial, telah mengubah cara manusia memproduksi, mengonsumsi, dan memaknai budaya. Namun, di balik kemajuan itu, ada persoalan mendasar yang kian terasa: budaya lokal perlahan kehilangan ruang hidupnya, terutama di kalangan generasi muda.

Media sosial kini bukan sekadar sarana hiburan, melainkan mesin pembentuk selera. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube bekerja melalui algoritma yang menentukan apa yang dianggap menarik, layak ditonton, dan patut ditiru.

Dalam logika ini, konten yang cepat, instan, dan mudah viral lebih diutamakan. Akibatnya, ekspresi budaya global, tarian populer, joget viral, hingga gaya hidup seragam, mendominasi ruang digital, sementara budaya lokal tersisih ke pinggir.

Dampaknya terlihat nyata di ruang pendidikan dan keseharian anak-anak. Pelajar sekolah dasar hingga menengah kini lebih fasih menirukan gerakan viral ketimbang mengenal tari daerahnya sendiri. Seni budaya lokal, yang sejatinya merupakan jati diri bangsa, kian tereduksi menjadi tontonan seremonial. Ia hadir sesaat dalam peringatan hari besar atau acara resmi, lalu kembali menghilang dari praktik hidup sehari-hari.

Sejumlah riset kebudayaan dan pendidikan memperkuat kegelisahan ini. Studi-studi mutakhir menunjukkan minat generasi muda terhadap seni dan tradisi daerah cenderung menurun, seiring meningkatnya konsumsi budaya populer global melalui media sosial. Kelompok usia 16–34 tahun, yang menjadi pengguna terbesar platform digital, lebih banyak mengakses konten hiburan global ketimbang konten budaya lokal. Ini bukan sekadar soal selera, melainkan tentang arah pembentukan identitas.

Namun, menyalahkan generasi muda semata adalah jalan pintas yang keliru. Budaya lokal kalah bukan karena miskin nilai, melainkan karena miskin dukungan. Negara kerap menyebut budaya sebagai “jati diri bangsa”, tetapi keberpihakan kebijakan sering berhenti di slogan.

Baca Juga:  Pesta Babi: Ketika Tanah Papua Menjadi Jamuan Kekuasaan

Ekosistem kebudayaan dibiarkan rapuh: seniman tradisi kekurangan ruang tampil, minim pendanaan, dan nyaris tanpa perlindungan keberlanjutan. Modernisasi berjalan cepat, tetapi tanpa jembatan yang menghubungkannya dengan akar tradisi. Padahal, budaya tidak pernah anti terhadap perubahan.

Seni tradisi justru memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ekspresi kreatif dan kontemporer. Tarian daerah bisa berdialog dengan visual modern, musik etnik dapat bersanding dengan teknologi digital, dan narasi lokal dapat hidup di media sosial. Transformasi semacam ini bukan bentuk pengkhianatan tradisi, melainkan cara agar budaya tetap bernapas di zamannya.

Ironisnya, peluang itu sering lahir dari inisiatif individual, bukan dari kebijakan yang terencana. Di tengah keterbatasan dukungan, muncul segelintir anak muda yang menjadikan media sosial sebagai ruang perlawanan kultural. Mereka menampilkan kesenian daerah di TikTok dan platform digital lain, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai identitas. Mereka membuktikan bahwa algoritma tidak selalu harus meminggirkan budaya; ia juga bisa dimanfaatkan untuk merawatnya.

Namun, tidak adil jika beban pelestarian budaya hanya diletakkan di pundak segelintir kreator muda. Sekolah, negara, komunitas, dan media harus ikut bertanggung jawab. Pendidikan budaya tidak cukup diajarkan sebagai hafalan atau formalitas kurikulum. Ia harus dihidupkan melalui praktik, diberi ruang eksperimen, dan dihargai secara sosial maupun ekonomi. Tanpa itu, budaya akan terus kalah dalam persaingan perhatian di ruang digital.

Jika dibiarkan, kita berisiko melahirkan generasi yang mahir meniru budaya luar, tetapi asing terhadap warisannya sendiri. Modernisasi tanpa akar hanya akan menciptakan kekosongan identitas. Di negeri yang kaya budaya, kita justru terancam menjadi penonton, menyaksikan jati diri bangsa perlahan tergeser oleh algoritma. (Ip/opinijogja).

Muhammad Arifin, Penulis lepas isu budaya dan demokrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027
Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan
Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa
Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial
Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial
Merdeka untuk Siapa? 81 Tahun RI dan Pahitnya Keadilan bagi Rakyat
Merdeka? Merdeka yang Seperti Apa?
“Londo Ireng” Bukan Bahasa Seorang Negarawan: Kritik atas Pernyataan Prabowo terhadap Wartawan
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:33 WIB

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:49 WIB

Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:58 WIB

Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial

Selasa, 18 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page