Foto: Jalur ekstrem Jeep Wisata Lava tour Merapi.
Sleman, opinijogja – Kunjungan wisatawan ke wisata Jeep Lava Tour Merapi terus mengalami peningkatan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Lonjakan pengunjung mulai terasa sejak pertengahan Desember dan masih berlangsung hingga saat ini.
Ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM), Babe Kotir, mengatakan aktivitas wisata jeep mulai ramai sejak 19 Desember 2025 dan merata di masing-masing komunitas.
“Untuk perkembangan wisata Jeep Lava Tour Merapi, dari pantauan saya mulai tanggal 19 sampai 20 Desember sudah mulai ramai. Lonjakan pengunjung cukup ramai, lumayan, dan merata hingga kemarin (25/12) maupun hari ini (27/12),” ujar Babe Kotir.
Ia menyebutkan, puncak kunjungan wisata Jeep Lava Tour Merapi diperkirakan akan terjadi pada penghujung tahun, seiring meningkatnya mobilitas wisatawan jelang pergantian tahun.
“Kemungkinan besar puncaknya di akhir tahun 2025. Berkaitan dengan Lava Tour, semoga semuanya berjalan lancar serta tetap aman dan terkendali,” tambahnya.
Jawir owner dari MJAK Adventure saat dikonfirmasi menuturkan, memang tahun ini ada peningkatan untuk kunjungan wisatawan, namun tidak terlalu signifikan.
“Kunjungan wisatawan ada peningkatan cukup lumayan tapi masih landai,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Sleman, Dr. Agus Budi Santoso, S.Si., M.Sc., memastikan kawasan wisata Gunung Merapi saat ini masih dalam kondisi aman untuk dikunjungi.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat dan wisatawan agar selalu aktif memantau informasi resmi terkait aktivitas Gunung Merapi.
“Saat ini kondisi Merapi masih aman. Namun masyarakat perlu selalu meng-update informasi, salah satunya dengan mengikuti akun media sosial Badan Geologi yang menyajikan perkembangan aktivitas Gunung Merapi terkini,” ujarnya.
Dr. Agus juga meminta para pengelola pariwisata di kawasan Merapi untuk rutin memperbarui informasi kondisi gunung serta memiliki respons yang cepat dan tepat apabila terjadi perkembangan aktivitas yang tidak diinginkan.
Selain itu, seluruh sarana dan prasarana pendukung kedaruratan diminta untuk diperiksa dan dipastikan dalam kondisi siap digunakan.
“Apapun alasannya, keselamatan pengunjung tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya. (Ip/opinijogja)







