Foto: Bregada Prajurit Cokro Joyo mengawal prosesi Garebeg Gunungan Ketupat di Padukuhan Deresan, Kalurahan Ringinharjo, Bantul, Sabtu (21/3/2026) malam. Tradisi tahunan ini diikuti ratusan warga yang antusias menyambut momen perebutan gunungan sebagai simbol berkah usai Ramadan.
Bantul, opinijogja – Ratusan warga antusias mengikuti tradisi Garebeg Bakdo Ketupat di Padukuhan Deresan, Kalurahan Ringinharjo, Kabupaten Bantul, Sabtu (21/3/2026) malam. Tradisi tahunan ini menjadi wujud syukur masyarakat setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Masyarakat Padukuhan Deresan, Kalurahan Ringinharjo, Bantul kembali menggelar tradisi Garebeg Gunungan Ketupat sebagai bagian dari perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi agenda rutin setiap tahun.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia, ketenteraman, serta hasil bumi yang diterima masyarakat.
Dalam prosesi tersebut, Gunungan Ketupat dikawal oleh Bregada Prajurit Cokro Joyo Padukuhan Deresan. Selain itu, turut dilaksanakan ritual siraman pada pohon beringin Kyai Daruno Mulyo, yang merupakan pemberian dari Kraton Yogyakarta pada tahun 2010.
Wakil Bupati Bantul, H. Aris Suharyanta, dalam sambutannya mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi budaya lokal. Ia mengaku bangga sebagai bagian dari warga Ringinharjo yang mampu melestarikan warisan budaya tersebut.
“Tradisi seperti ini tidak semua daerah mampu mempertahankannya, karena berbagai tantangan. Ini menjadi kekuatan budaya yang harus terus dijaga,” ujar Aris.
Rangkaian acara diawali dengan laporan dari Suyatno selaku Panji I Bregada kepada Pangarso Upacara Sulistyo Atmaji yang juga menjabat sebagai lurah Ringinharjo. Selanjutnya dilakukan penyerahan tumpeng oleh Kepala Dukuh Deresan, Sugeng Wusana.
Setelah doa dipimpin oleh Kyai Imam Solikhin, Gunungan Ketupat kemudian diperebutkan oleh warga. Masyarakat meyakini uba rampe gunungan tersebut membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya.
Tokoh masyarakat Deresan yang juga abdi dalem Kraton Yogyakarta, Mas Bekel Atmo Yasinto, menjelaskan bahwa terdapat beberapa versi asal-usul nama Deresan. Salah satunya berkaitan dengan kisah dakwah Sunan Kalijaga yang meminta para santri untuk “nderes” atau belajar mengaji di wilayah tersebut.
Versi lain menyebutkan bahwa nama Deresan berasal dari mata pencaharian masyarakat setempat di masa lalu sebagai penderes kelapa atau pembuat gula merah.
Ia juga menambahkan bahwa pohon beringin Kyai Daruno Mulyo diberikan sebagai pengganti pohon beringin sepuh yang tumbang pada 2005, yang menjadi cikal bakal nama Kalurahan Ringinharjo.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, di antaranya Wakil Bupati Bantul, Dinas Kebudayaan Bantul, Panewu Bantul, para kepala dukuh se-Ringinharjo, ketua RT, serta 12 abdi dalem Kraton Yogyakarta yang berdomisili di Padukuhan Deresan.
(Ip/opinijogja)















