Foto: bangunan nisan kosong milik Tumenggung Purwo Adirejo yang makam aslinya berada bangunan disampingnya, Kamis (05/02).
Klaten, opinijogja — Ada pemandangan menarik di kompleks makam Sunan Pandanaran II atau Sunan Tembayat, Bayat, Klaten. Saat berziarah menuju makam utama Sunan Tembayat, tim Opinijogja mendapati sebuah bangunan kecil dengan nisan berukuran lebih dari dua meter yang mencuri perhatian pengunjung.
Namun, menurut keterangan juru kunci makam, nisan tersebut sejatinya tidak berisi jenazah.
“Sebenarnya nisan ini kosong, dan makam yang sebenarnya ada di sebelah bangunan ini,” tuturnya.
Makam yang dimaksud berada tepat di samping bangunan tersebut. Kondisinya tampak sederhana, hanya tersusun dari batu bata yang tidak beraturan, menyerupai makam yang rusak atau belum selesai dibangun.
Juru kunci kemudian menjelaskan bahwa makam itu merupakan peristirahatan terakhir Tumenggung Purwo Adirejo. Ia menyebut, kondisi makam yang dibiarkan apa adanya merupakan wasiat almarhum sebelum wafat.
“Ini makam Tumenggung Purwo Adirejo. Kenapa tidak diperbaiki? Sebelum wafat beliau berpesan tidak ingin makamnya dibangun atau diperbaiki. Dalam bahasa Jawa, pesannya kurang lebih: jangan dibangun makamku, taruh saja di samping makam, supaya kelak cucu-cucuku kalau ziarah bisa untuk sandaran,” jelasnya.
Tumenggung Purwo Adirejo dikenal sebagai sosok yang memiliki kesaktian dan kharisma. Dalam cerita lisan masyarakat setempat, ia juga dikenal tampan dan banyak disukai kaum perempuan.
Secara historis, Tumenggung Purwo Adirejo disebut sebagai salah satu sentana atau kerabat sekaligus pengikut setia yang berperan menjaga kelestarian ajaran Sunan Tembayat di wilayah Bayat dan sekitarnya.
Kompleks makam Bayat sendiri merupakan tempat peristirahatan sejumlah tokoh penting yang berjasa dalam penyebaran Islam maupun pemerintahan pada masa transisi Mataram. Berdasarkan tradisi lisan dan sejarah lokal, Tumenggung Purwo Adirejo diyakini sebagai tokoh pendamping atau keturunan dari trah Sunan Tembayat, Ki Ageng Pandanaran.
Hingga kini, makam sederhana tersebut tetap dipertahankan sesuai wasiat, menjadi pengingat nilai kerendahan hati seorang tokoh di tengah jejak sejarah besar Bayat, Klaten.
(Ip/opinijogja)















