Membaca Jogja: Lebih dari Sekadar Tradisi dan Romantisme

- Penulis

Selasa, 25 November 2025 - 12:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

i

Oplus_131072

Yogyakarta, opinijogja – Selasa (25/11/2025), Jogja selalu digambarkan sebagai kota tradisi, budaya, dan sejarah. Narasi itu benar, namun terlalu sempit jika hanya berhenti di sana. Kota yang dijuluki “berhati nyaman” ini menyimpan lapisan pesona lain yang sering luput dari sorotan: denyut pariwisata yang tak pernah tidur, dinamika seni yang terus bereksperimen, geliat politik lokal yang kompleks, hingga persoalan sosial yang muncul seiring perubahan zaman.

Di tengah perubahan tersebut, ruang informasi yang jernih menjadi kebutuhan penting. Hadirnya OpiniJogja bukan sekadar upaya menyajikan berita, tetapi membangun ekosistem literasi publik yang sehat. Jogja bukan hanya tempat yang patut dinikmati, tetapi juga dibaca, dipahami, dan dikritisi.

Pariwisata, misalnya, bukan sekadar destinasi foto atau daftar harga tiket. Ia adalah ruang hidup masyarakat lokal, tentang bagaimana desa wisata bertahan, bagaimana UMKM berkembang, dan bagaimana pemerintah daerah merespons kebutuhan infrastruktur. Seni dan budaya pun demikian: ia bukan hanya event, pameran, atau festival. Ia adalah denyut kreativitas yang membawa nama Jogja ke kancah nasional sekaligus menjadi ruang kritik sosial.

Baca Juga:  Empat Pemuda Keroyok Pria Hingga Tewas di Yogyakarta, Polisi Bergerak Cepat

Di sisi lain, persoalan politik, hukum, dan kriminalitas tak boleh direduksi sebagai isu pinggiran. Jogja adalah daerah istimewa dengan dinamika keistimewaan yang terus diperdebatkan. Kebijakan publik, benturan kepentingan ekonomi, politik, serta kasus-kasus yang menyangkut pelayanan masyarakat adalah bagian dari wajah Jogja yang perlu dikupas dengan perspektif yang lebih jernih.

Melalui OpiniJogja, pembaca diajak menelisik Jogja secara utuh: tidak hanya romantisme masa lalu, tetapi juga problematika masa kini dan tantangan masa depan. Kota ini bukan hanya ikon wisata, bukan sekadar ruang nostalgia, melainkan ruang hidup yang diisi manusia-manusia dengan realitas yang berlapis.

Menulis tentang Jogja berarti menulis tentang denyut yang bergerak—tentang harapan, kritik, kegelisahan, dan kebanggaan. Di titik itulah OpiniJogja ingin mengambil peran: menghadirkan informasi, edukasi, dan analisis yang tidak hanya berhenti pada permukaan, tetapi menggugah publik untuk berpikir lebih jauh tentang rumah bernama Jogja dan wilayah sekitarnya.

Jogja bukan sekadar budaya dan sejarah. Jogja adalah ekosistem kehidupan. Dan OpiniJogja ada untuk merawat cara kita memandangnya. (IP/opinijogja)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kenyang Diprioritaskan, Pendidikan Ditinggalkan
PKL: Korban Pembiaran yang Dihukum Negara
Dana Desa Menyusut, Demokrasi Desa Dipertaruhkan
Sepur dan Jejak Perubahan Zaman
Rel Kereta Api di Jawa: Infrastruktur Kolonial yang Terus Kita Warisi
Bangsa yang Tak Mau Mendengar
Diponegoro dan Perang Jawa: Kedaulatan yang Lahir dari Perlawanan
KUHP dan KUHAP Baru di Era Digital
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 23:48 WIB

Kenyang Diprioritaskan, Pendidikan Ditinggalkan

Minggu, 18 Januari 2026 - 12:38 WIB

PKL: Korban Pembiaran yang Dihukum Negara

Kamis, 15 Januari 2026 - 02:27 WIB

Dana Desa Menyusut, Demokrasi Desa Dipertaruhkan

Selasa, 13 Januari 2026 - 08:53 WIB

Sepur dan Jejak Perubahan Zaman

Selasa, 13 Januari 2026 - 00:03 WIB

Rel Kereta Api di Jawa: Infrastruktur Kolonial yang Terus Kita Warisi

Berita Terbaru

Opinijogja

Kenyang Diprioritaskan, Pendidikan Ditinggalkan

Rabu, 21 Jan 2026 - 23:48 WIB