Foto: Prosesi akhir Labuhan Ageng Merapi saat 11 ubo rampe diboyong dari Petilasan Mbah Maridjan menuju Srimanganti, Selasa (20/1/2026). Prosesi sakral ini disaksikan utusan Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa.
Sleman, opinijogja – Prosesi akhir Labuhan Ageng Merapi digelar Selasa (20/1/2026) pagi. Sebanyak 11 ubo rampe diboyong dari Petilasan Mbah Maridjan menuju Srimanganti sekitar pukul 06.00 WIB untuk dilabuh dalam prosesi sakral adat Jawa.
Prosesi ini disaksikan langsung oleh utusan Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta dihadiri Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa. Iring-iringan ubo rampe berjalan khidmat dengan pengawalan abdi dalem Keraton Yogyakarta.
Antusiasme masyarakat dalam Labuhan Ageng Merapi tahun ini terpantau meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya warga sekitar lereng Merapi, masyarakat dari luar wilayah Sleman hingga wisatawan turut mengikuti prosesi.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan Labuhan Ageng Merapi tahun ini terasa istimewa karena digelar dalam rangka Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.
“Hari ini Labuhan Ageng Merapi sangat istimewa. Selain diikuti abdi dalem, masyarakat sekitar juga terlibat. Antusiasme masyarakat dari luar wilayah Sleman luar biasa, bahkan ada wisatawan yang ikut naik,” kata Danang di sela prosesi.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa Labuhan Ageng Merapi tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga memiliki daya tarik wisata, khususnya bagi kawasan lereng Merapi dan sekitarnya.
“Ini artinya labuhan selain sebagai agenda budaya tahunan, juga bisa menjadi daya tarik obyek wisata. Masyarakat luas dan wisatawan sangat antusias mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.
Danang menegaskan Pemerintah Kabupaten Sleman terus memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Labuhan Ageng Merapi melalui dinas dan instansi terkait, seperti Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata.
“Kami selalu mengevaluasi kegiatan ini, apa yang kurang dan apa yang diinginkan masyarakat. Harapannya di tahun-tahun berikutnya bisa terus kita perbaiki,” ucapnya.
Ia berharap Labuhan Ageng Merapi tidak hanya dimaknai sebagai ritual adat, tetapi juga menjadi sarana bersama untuk nguri-uri budaya sekaligus mendoakan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya agar senantiasa sejahtera, sehat, aman, dan tenteram.
“Kegiatan Labuhan Merapi ini sudah menjadi kalender budaya dan dilaksanakan setiap tahun sebagai kesepakatan budaya masyarakat Yogyakarta,” pungkas Danang.
(Ip/opinijogja)







