Foto: Ilustrasi (Ip/opinijogja)
Klaten, opinijogja – Sabtu, (29/11/2025), Klaten bukan sekadar deretan umbul yang jernih atau gemerlap lampu alun-alun yang memikat siapa pun yang melintas. Lebih dari itu, Klaten menyimpan kedalaman identitas yang tak bisa diukur hanya dari destinasi wisata. Ia adalah ruang hidup bagi budaya Jawa yang tumbuh, dirawat, dan diwariskan lintas generasi.
Di tengah arus modernitas yang semakin cepat, Klaten justru menjadi contoh bagaimana nilai budaya bisa bertahan tanpa kehilangan jati diri. Tradisi bukan hanya dipertahankan, tetapi dirayakan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Tradisi Ya Qowiyyu di Jatinom, misalnya, tetap menjadi magnet spiritual sekaligus budaya yang setiap tahun menarik ribuan orang dari berbagai daerah.
Ritual penyebaran apem bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan simbol doa, syukur, dan harapan yang terus mengalir sejak masa Kiai Ageng Gribig.
Begitu pula tradisi Gunungan Ketupat di beberapa desa yang digelar selepas Lebaran Kupat. Warga dari berbagai usia berkumpul, berdoa, lalu berebut ketupat yang disusun menyerupai gunungan.
Tradisi ini bukan hanya tentang berebut berkah, tetapi tentang bagaimana masyarakat menandai kebersamaan setelah satu bulan berpuasa. Nilai gotong royong terlihat jelas dalam setiap prosesinya, mulai dari menyiapkan bahan, memasak ketupat, hingga mengarak gunungan keliling desa.
Selain itu, Klaten masih merawat banyak ritual lain yang jarang terdengar tetapi tetap dihidupi oleh masyarakatnya. Ada Upacara Bersih Desa di berbagai kecamatan, yang menjadi wujud syukur atas hasil panen dan permohonan agar desa selalu terjaga dari mara bahaya.
Ada pula Upacara Saparan dan Suranan, yang menjadi momentum tahunan untuk mempererat hubungan antar-warga dan mengingat kembali nilai leluhur. Di lereng Merapi, sebagian masyarakat masih menjaga tradisi Kenduri dan slametan yang mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tradisi yang masih bertahan ini menunjukkan satu hal: Klaten bukan sekadar tempat singgah, tetapi ruang budaya yang hidup. Warisan budaya bukan dipamerkan, melainkan dijalani sehari-hari, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ketika banyak daerah sibuk membangun daya tarik visual, Klaten justru menyuguhkan daya tarik nilai: harmoni sosial, kebijaksanaan lokal, dan spiritualitas masyarakatnya.
Dan di sinilah pesona sejati Klaten berada. Kesederhanaannya menyimpan kedalaman, ritualnya menyimpan cerita, dan budayanya menyimpan keteduhan Jawa yang tak lekang oleh zaman.
Klaten adalah rumah bagi keindahan yang pelan tetapi menyentuh, sebuah daerah yang mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus mengikis akar, dan modernitas bisa berdampingan dengan tradisi.







