Foto: Ilustrasi : Muhammad Arifin
Oleh: Muhammad Arifin
Minggu (28/12/2025)
Klaten – Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kian masif, kebudayaan kerap diposisikan sebagai urusan pinggiran. Ia dianggap sekadar warisan masa lalu, simbol seremonial, atau pelengkap agenda pariwisata. Padahal, kebudayaan sejatinya merupakan instrumen aktif dalam membentuk karakter bangsa, memperteguh jati diri nasional, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.
Kebudayaan adalah fondasi identitas. Nilai gotong royong, toleransi, dan keberagaman yang tumbuh dalam tradisi lokal telah menjadi perekat sosial bangsa Indonesia sejak lama. Di tengah masyarakat yang semakin majemuk dan terbuka, kebudayaan berfungsi sebagai penuntun moral sekaligus jangkar identitas agar bangsa ini tidak tercerabut dari akarnya.
Lebih dari aspek sosial, kebudayaan kini memiliki dimensi strategis dalam pembangunan. Industri kreatif berbasis budaya, mulai dari seni pertunjukan, kuliner tradisional, kriya, hingga fesyen, telah berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Kebudayaan tidak hanya melahirkan ekspresi artistik, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di tingkat global, kebudayaan berperan sebagai kekuatan lunak (soft power). Pengakuan warisan budaya takbenda oleh UNESCO, diplomasi seni, hingga film dan musik Indonesia yang menembus pasar internasional menunjukkan bahwa citra bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga melalui kekayaan budaya. Kebudayaan menjadi bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan antarbangsa.
Namun, tantangan besar masih mengadang. Modernisasi dan arus budaya global berpotensi mengikis nilai-nilai lokal jika tidak diimbangi dengan upaya pelestarian dan regenerasi. Di sinilah peran negara, masyarakat, dan generasi muda menjadi krusial. Kebudayaan tidak boleh hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupkan dan dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman.
Menempatkan kebudayaan sebagai kekuatan utama Indonesia berarti menjadikannya bagian integral dari strategi pembangunan nasional. Kebudayaan bukan beban sejarah, melainkan modal masa depan. Ketika dikelola secara serius, inklusif, dan berkelanjutan, kebudayaan mampu memperkuat identitas bangsa sekaligus menegaskan posisi Indonesia di panggung dunia. (Ip/opinijogja)







