Foto: Ilustrasi, opinijogja (11/01)
Oleh: Muhammad Arifin
Klaten, opinijogja – Gunung Penanggungan bukan sekadar lanskap alam di Jawa Timur. Ia adalah arsip sunyi sejarah Jawa—terbuka, tetapi kerap luput dibaca. Ingatan tentang masa lalu di gunung ini tidak disimpan dalam lembaran dokumen, melainkan dalam batu-batu tua, hutan yang menua, dan kesunyian yang bertahan.
Dengan ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut, Penanggungan memang tidak menonjol secara geografis. Namun dalam kosmologi Hindu-Buddha, gunung ini dipercaya sebagai representasi Mahameru, pusat semesta. Kepercayaan itu diperkuat oleh puluhan situs purbakala yang tersebar dari kaki hingga punggung gunung—mulai dari candi, petirtaan, hingga tempat pertapaan—yang menandai peran penting Penanggungan pada masa klasik Jawa, terutama era Majapahit.
Berbeda dengan candi-candi besar yang dibangun untuk menegaskan kuasa politik, situs-situs di Penanggungan justru tampil sederhana. Bangunannya menyatu dengan alam, jauh dari kesan monumental. Kesederhanaan itu mencerminkan watak spiritualitas Jawa kuno: laku sunyi, pengendalian diri, dan pencarian makna hidup di luar gemerlap kekuasaan. Gunung ini menjadi ruang menyepi bagi para resi, bangsawan, dan tokoh kerajaan yang ingin mengambil jarak dari hiruk-pikuk istana.
Di Penanggungan, agama dan alam tidak dipisahkan. Gunung diperlakukan sebagai entitas hidup, tempat manusia berdialog dengan semesta. Relief dan tata letak situs-situsnya memperlihatkan pandangan kosmologis yang menempatkan manusia bukan sebagai pusat, melainkan bagian dari tatanan besar yang harus dijaga keseimbangannya.
Ingatan itu belum sepenuhnya hilang. Hingga hari ini, Penanggungan masih dimaknai sakral oleh masyarakat sekitar. Ritual adat, doa bersama, hingga laku tirakat tetap dijalankan, meski kerap berada di pinggir narasi pariwisata. Cerita tentang mata air suci, jalur wingit, dan tempat pamali terus hidup sebagai tradisi lisan lintas generasi.
Namun, arsip sunyi selalu terancam oleh lupa. Penanggungan kini berada di persimpangan zaman. Promosi wisata sering kali melaju lebih cepat daripada kesadaran budaya. Vandalisme situs, pendakian tanpa etika, serta alih fungsi lahan menjadi ancaman nyata bagi warisan yang selama berabad-abad dijaga melalui penghormatan pada alam.
Gunung Penanggungan mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk arsip resmi atau monumen megah. Ia juga hidup sebagai lanskap—ruang sunyi yang menyimpan cara berpikir leluhur tentang batas, keselarasan, dan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Di tengah zaman yang serba cepat dan bising, Penanggungan tetap berdiri pelan. Ia seolah menegaskan bahwa tidak semua yang penting harus segera dibaca, dan tidak semua yang berharga harus dipamerkan.
(Ip/opinijogja)







