Foto: Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho (tengah) meninjau langsung kegiatan gropyokan tikus bersama petani di Padukuhan Sutan, Sendangsari, Minggir, Sleman, Minggu (18/1/2026), sebagai upaya pengendalian hama tikus yang mengancam produktivitas padi.
Sleman, opinijogja — Kelompok Tani Ngudi Rejeki Sutan, Padukuhan Sutan, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Minggir, Sleman, menggelar kegiatan gropyokan tikus sebagai upaya pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), Minggu (18/1/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi DIY, Aris Eko Nugroho, bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan warga setempat.
Dikonfirmasi opinijogja, Senin (19/1/2026), Aris Eko Nugroho mengatakan gropyokan tikus merupakan bagian dari gerakan pengendalian OPT yang secara rutin dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian, khususnya tanaman padi.
“Kami dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DIY melakukan pengendalian OPT, karena OPT tikus merupakan yang paling signifikan mengganggu produktivitas pertanian, terutama padi,” ujarnya.
Menurut Aris, gerakan pengendalian seperti gropyokan tikus tidak hanya berdampak pada penurunan populasi hama, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan semangat gotong royong petani dalam menjaga lahan pertanian.
“Semoga gerakan ini memberikan energi positif bagi warga di Bulak Sutan dan juga masyarakat DIY. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pengendalian OPT-OPT yang ada di DIY,” imbuhnya.
Aris menjelaskan, saat ini DPKP DIY memiliki 53 petugas POPT yang bertugas di empat kabupaten/kota, termasuk melayani pemeriksaan laboratorium. Di lapangan, satu petugas POPT melayani antara satu hingga tiga kapanewon.
“Tugas utama POPT adalah mengamati, mengenali, dan mengendalikan OPT. Salah satu aktivitas rutinnya adalah Gerdal atau gerakan pengendalian,” jelasnya.
Ia menegaskan, berdasarkan pemantauan di lapangan, tikus masih menjadi hama paling merusak pada tanaman padi di DIY, sehingga diperlukan pengendalian secara terpadu dan berkelanjutan dengan melibatkan petani.
Kegiatan gropyokan tikus ini diharapkan mampu menekan serangan hama sekaligus menjaga ketahanan pangan dan hasil panen petani di wilayah Sleman dan DIY secara umum.
(Ip/opinijogja)







