Foto: Ilustrasi opinijogja
Oleh: Muhammad Arifin
Klaten, opinijogja – Menjelang Ramadhan, banyak warga di Pulau Jawa punya kebiasaan unik: mandi bersama di sungai, sendang, atau mata air. Tradisi ini dikenal dengan sebutan padusan, sebuah ritual turun-temurun yang hingga kini masih lestari, dari desa hingga kota.
Sekilas, padusan terlihat seperti acara kumpul-kumpul biasa. Ada yang datang bersama keluarga, rombongan teman, bahkan satu kampung penuh. Tapi di balik suasana ramai dan penuh canda itu, padusan sebenarnya menyimpan cerita panjang tentang sejarah, budaya, dan proses masuknya Islam ke tanah Jawa.
Dari Ritual Kuno ke Tradisi Ramadhan
Kata padusan berasal dari bahasa Jawa adus, yang artinya mandi. Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Jawa sudah mengenal ritual mandi suci sebagai bagian dari kepercayaan Hindu–Buddha. Air dipandang sebagai simbol pembersihan diri, baik secara fisik maupun batin.
Ketika Islam mulai berkembang, tradisi ini tidak dihapus. Justru sebaliknya, maknanya disesuaikan. Para penyebar Islam seperti jaringan Wali Songo memilih pendekatan kultural: merangkul kebiasaan lokal, lalu mengisinya dengan nilai-nilai Islam.
Salah satu tokoh yang dikenal piawai dalam strategi ini adalah Sunan Kalijaga. Lewat cara dakwah yang halus, tradisi seperti padusan kemudian dimaknai sebagai simbol persiapan spiritual menjelang Ramadhan—membersihkan diri sebelum memasuki bulan ibadah.
Sejak saat itu, padusan menjadi semacam “alarm budaya” bahwa Ramadhan sudah dekat.
Lebih dari Sekadar Mandi
Kini, padusan bukan cuma soal bersih-bersih badan. Di banyak tempat, tradisi ini berubah menjadi momen sosial: ajang silaturahmi, kumpul keluarga, hingga wisata musiman. Warung dadakan bermunculan, area pemandian ramai, dan suasana kampung terasa lebih hidup.
Meski begitu, makna dasarnya tetap sama: refleksi diri.
Padusan mengajak orang berhenti sejenak dari rutinitas harian, lalu menata ulang niat. Bukan hanya membersihkan tubuh, tapi juga hati—melepas dendam, iri, dan prasangka sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Identitas Jawa yang Fleksibel
Padusan menjadi contoh menarik bagaimana budaya Jawa dan Islam bisa berjalan beriringan. Tradisi lama tidak dimusnahkan, tapi diberi ruh baru. Inilah ciri khas Islam Nusantara: tidak keras, tidak memutus akar budaya, melainkan tumbuh lewat dialog.
Di tengah arus modernisasi, padusan memang berisiko kehilangan makna jika hanya dipahami sebagai acara seru-seruan tahunan. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk mengenal sisi filosofisnya, bahwa tradisi ini bukan sekadar mandi massal, tapi warisan kebijaksanaan lokal.
Pada akhirnya, padusan adalah pengingat sederhana: sebelum Ramadhan tiba, mari bersih-bersih, bukan hanya raga, tapi juga rasa.
(Ip/opinijogja).















