Labuhan Ageng Merapi Tahun Dal Digelar Lebih Sakral

- Penulis

Selasa, 20 Januari 2026 - 15:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Juru Kunci Merapi Wedono Suraksohargo Asihono (Mbah Asih) memberikan keterangan kepada wartawan terkait makna dan kekhususan Labuhan Ageng Merapi Tahun Dal usai prosesi Labuhan di petilasan mbah Maridjan (20/01).

 

Sleman, opinijogja — Prosesi Labuhan Ageng Merapi tahun ini berlangsung lebih sakral seiring bertepatan dengan Tahun Dal dalam penanggalan Jawa, sebuah siklus delapan tahunan yang menjadikan upacara adat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut digelar dengan kelengkapan dan makna khusus.

Perbedaan paling menonjol terlihat pada ubo rampe yang disertakan dalam prosesi. Pada Tahun Dal, terdapat tambahan seserahan berupa krambil watangan, yakni pelana kuda berbahan kayu, yang hanya dikeluarkan setiap delapan tahun sekali khusus untuk Labuhan Ageng Merapi.

Selain kelengkapan ubo rampe, Labuhan Ageng Tahun Dal juga digelar di empat lokasi, yaitu Labuhan Parangkusumo, Labuhan Merapi, Gunung Lawu, serta Dlepih di Wonogiri, yang dikenal sebagai tempat pertapaan Panembahan Senopati atau Kanjeng Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pada tahun-tahun di luar Tahun Dal, labuhan hanya dilakukan di tiga lokasi tanpa Dlepih.

Juru Kunci Merapi, Wedono Suraksohargo Asihono (Mbah Asih), menuturkan bahwa Labuhan Ageng Merapi di Tahun Dal dimaknai sebagai momentum untuk memperdalam doa dan permohonan keselamatan.

“Di Tahun Dal ini, labuhan dimaknai agar kita lebih konsentrasi memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya warga lereng Merapi dan Yogyakarta pada umumnya senantiasa diberikan keselamatan,” ujar Mbah Asih.

Baca Juga:  Kemarau Panjang Ancam Sleman, 4 Kapanewon Rawan Kekeringan dan Krisis Air Bersih

Dalam prosesi penyerahan ubo rampe pada Senin (19/1/2026), turut diserahkan oleh-oleh dari Sri Sultan Hamengku Buwono X berupa kue apem. Kue tersebut diberikan kepada juru kunci Merapi serta para lurah di wilayah Kapanewon Cangkringan sebagai bentuk perhatian Kraton. Namun demikian, kue apem tidak termasuk dalam rangkaian ubo rampe labuhan.

Secara tradisi, Keraton Yogyakarta mengenal dua jenis labuhan, yakni Labuhan Ageng dan Labuhan Alit. Labuhan Ageng hanya dilaksanakan setiap delapan tahun sekali pada Tahun Dal, dengan ubo rampe yang lebih lengkap serta tambahan lokasi Dlepih. Sementara Labuhan Alit digelar setiap tahun di tiga lokasi, Merapi, Parangkusumo, dan Lawu, kecuali pada Tahun Dal, ketika Labuhan Alit ditiadakan.

Pada Tahun Dal, ubo rampe juga dilengkapi songsong pethak, payung putih keemasan yang digunakan dalam Labuhan Lawu, serta kambil watangan khusus untuk Labuhan Merapi.

Baik Labuhan Ageng maupun Labuhan Alit memiliki tujuan yang sama, yakni sebagai simbol “labuh” atau membuang sifat buruk, memohon keselamatan, menjaga keselarasan alam sesuai falsafah Hamemayu Hayuning Bawono, serta sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan asal-usul Mataram.

Tahun Dal menjadi semakin istimewa karena juga bertepatan dengan peringatan kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X, menjadikan Labuhan Ageng Merapi tidak sekadar ritual adat, tetapi juga momentum spiritual dan historis yang sarat makna bagi Yogyakarta dan masyarakat lereng Merapi.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jalan Sehat dan Karnaval Budaya Padukuhan Sayidan Libatkan Lebih dari 500 Warga
Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa
BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja
Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September
Pemkab Sleman Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Busana Adat Nusantara Warnai Lapangan Denggung
HUT ke-81 RI di Pakem Digelar Spektakuler, 300 Pelajar Tampilkan Tari Kolosal Nusantara
BPHTB Kini Diverifikasi Maksimal 3 Hari, ATR/BPN Targetkan Balik Nama Sertifikat Tanah Selesai 10 Hari
Raih Gelar Doktor, Kadis Kebudayaan Kulon Progo Siapkan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali Jadi Ikon Wisata Edukasi
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:34 WIB

Jalan Sehat dan Karnaval Budaya Padukuhan Sayidan Libatkan Lebih dari 500 Warga

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:38 WIB

BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September

Senin, 17 Agustus 2026 - 14:13 WIB

Pemkab Sleman Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Busana Adat Nusantara Warnai Lapangan Denggung

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page