Foto: Peserta mengikuti kegiatan Macapatan Wuku di Museum Pawukon Kwarakan, Desa Wisata Sidorejo, Lendah, Kulon Progo. Melalui tembang Jawa dan pembacaan wuku, pengunjung diajak memahami penanggalan tradisional sekaligus kearifan lokal Jawa dalam suasana yang khidmat dan edukatif.
Kulon Progo, opinijogja – Berkunjung ke Desa Wisata Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, belum lengkap tanpa singgah di Museum Pawukon Kwarakan. Destinasi wisata budaya ini menawarkan pengalaman unik mengenal kearifan lokal Jawa melalui sistem penanggalan tradisional yang sarat makna.
Museum Pawukon Kwarakan lahir dari upaya pelestarian Naskah Pawukon Kiai Jotirto, warisan milik warga Padukuhan Kwarakan, simbah Jotirto. Naskah ini memuat sistem penanggalan Jawa dengan 30 wuku yang sejak dahulu digunakan masyarakat untuk membaca waktu, menentukan hari baik dan buruk, hingga memahami karakter manusia berdasarkan hari kelahiran.
Melalui pawukon, pengunjung tak hanya melihat koleksi, tetapi juga diajak belajar secara langsung. Mulai dari pembacaan karakter wuku, peracikan jamu sesuai wuku kelahiran, hingga mengenal tradisi Jawa dalam memaknai siklus kehidupan. Konsep ini menjadikan Museum Pawukon bukan sekadar ruang pamer, melainkan ruang belajar budaya yang interaktif.
Museum ini berlokasi strategis di kawasan Desa Wisata Sidorejo, sehingga mudah dijangkau wisatawan. Kehadirannya memperkuat Sidorejo sebagai desa wisata berbasis edukasi dan budaya, sekaligus menjadi salah satu daya tarik unggulan di wilayah barat Yogyakarta.
Museum Pawukon mulai beroperasi pada 1 September 2022 dengan nama Omah Wuku. Seiring meningkatnya minat wisatawan, museum kemudian menempati lokasi baru dan resmi dibuka kembali untuk umum pada 18 Juni 2023.
Selain naskah pawukon, pengunjung dapat melihat beragam artefak budaya seperti kalamudheng, lesung, jembangan air, patung dewa-dewi, wayang, hingga lumpang batu. Museum ini juga mengembangkan wisata berbasis wellness dengan aktivitas menggurat lontar, iluminasi naskah daluwang, serta peracikan jamu tradisional.
Daya tarik Museum Pawukon semakin lengkap melalui kolaborasi dengan Sanggar Seni Watugunung. Setiap Sabtu pagi digelar Kelas Budaya yang terbuka untuk anak-anak hingga dewasa. Sementara itu, pada malam hari pengunjung dapat mengikuti Macapatan Wuku, menikmati tembang-tembang Jawa sekaligus memahami filosofi di balik tiap wuku.
Dengan perpaduan wisata edukasi, budaya, dan wellness, Museum Pawukon Kwarakan menawarkan pengalaman wisata yang autentik dan berbeda. Cocok bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kearifan lokal Jawa sambil menikmati suasana khas Desa Wisata Sidorejo.
(Ip/opinijogja)















