Wakil Bupati Sleman

Kadispar Kulon Progo

SKS

Pilkada Tanpa Rakyat

- Penulis

Rabu, 7 Januari 2026 - 00:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi, opinijogja (07/01/2026).

 

Yogyakarta, opinijogja — Wacana pengembalian pemilihan kepala daerah kepada DPRD kembali membuka perdebatan lama tentang arah demokrasi lokal. Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) Kota Yogyakarta dan Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) DIY menilai gagasan tersebut sebagai langkah mundur yang menggerus kedaulatan rakyat.

Ketua ISRI Kota Yogyakarta yang juga Sekretaris GPM DIY, Antonius Fokki Ardiyanto, menyebut Pilkada langsung sebagai salah satu capaian pokok reformasi. Mekanisme ini, menurut dia, bukan sekadar prosedur elektoral, melainkan ruang partisipasi publik yang menentukan relasi kuasa antara rakyat dan pemimpinnya.

“Ketika Pilkada dikembalikan ke DPRD, rakyat tidak lagi memilih. Kekuasaan dipindahkan ke ruang tertutup,” kata Antonius dalam pernyataan tertulis, Rabu, 7 Januari 2026.

Ia menilai pemilihan oleh DPRD berisiko memperkuat dominasi mayoritas elite parlemen. Dalam sistem kepartaian yang oligarkis, mayoritas politik kerap dibangun melalui kompromi transaksional, bukan pertarungan visi dan akuntabilitas publik.

Model ini juga membuka peluang kendali politik oleh segelintir elite partai. Kepala daerah, kata Antonius, berpotensi lebih terikat pada kepentingan fraksi yang memilihnya ketimbang pada mandat warga.

Baca Juga:  Prosesi Awal Labuhan Ageng Merapi Digelar, Utusan Dalem Kraton Yogyakarta Serahkan 11 Macam Ubo Rampe

“Akuntabilitas bergeser. Bukan lagi kepada rakyat, melainkan kepada elite yang menentukan jabatan,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi politik, ISRI dan GPM DIY menilai mekanisme ini justru memusatkan kekuasaan dan korupsi pada lingkaran sempit elite lokal. Proses pemilihan yang tertutup dinilai melemahkan pengawasan publik dan memperbesar peluang politik balas jasa.

Pengalaman sebelum reformasi menunjukkan bahwa pemilihan kepala daerah oleh DPRD kerap diwarnai suap politik dan jual beli pengaruh. Menghidupkan kembali mekanisme tersebut dianggap sebagai pengulangan praktik lama dalam wajah baru.

ISRI dan GPM DIY menilai problem Pilkada tidak terletak pada hak pilih rakyat, melainkan pada kualitas demokrasi itu sendiri. Mereka mendorong perbaikan melalui transparansi pendanaan politik, penegakan hukum terhadap korupsi, serta demokratisasi internal partai.

“Demokrasi tidak boleh direduksi menjadi urusan elite. Hak pilih rakyat adalah batas yang tidak boleh dilanggar,” kata Antonius.

(Ip/opinijogja).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Esti Wijayati ajak masyarakat jaga kerukunan dan kebersamaan saat Idul Fitri 1447 H
PDI Perjuangan Jogja Bagikan Bingkisan Lebaran dan Buka Posko Mudik di Giwangan
Anggota DPRD Sleman Imbau Warga Perketat Keamanan Lingkungan Jelang Lebaran
Uji Adrenalin di Lereng Merapi, MJAK Adventure Luncurkan Paket Wisata Malam “Nightmare Adventure” Selama Ramadhan
Eko Suwanto Soroti Kebijakan BOP dan ART, Dinilai Belum Cerminkan Amanah Konstitusi
Disparekrafpora Gunungkidul Siapkan Antisipasi Lonjakan Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Buka Puasa Bersama di Graha Utama, Gubernur Akmil Perkuat Soliditas Keluarga Besar
Saldo Minimum Mandiri, BRI dan BNI per Maret 2026, Simak Rinciannya
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 15:08 WIB

Esti Wijayati ajak masyarakat jaga kerukunan dan kebersamaan saat Idul Fitri 1447 H

Rabu, 18 Maret 2026 - 15:00 WIB

PDI Perjuangan Jogja Bagikan Bingkisan Lebaran dan Buka Posko Mudik di Giwangan

Rabu, 11 Maret 2026 - 03:08 WIB

Anggota DPRD Sleman Imbau Warga Perketat Keamanan Lingkungan Jelang Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 - 02:56 WIB

Uji Adrenalin di Lereng Merapi, MJAK Adventure Luncurkan Paket Wisata Malam “Nightmare Adventure” Selama Ramadhan

Senin, 9 Maret 2026 - 13:44 WIB

Eko Suwanto Soroti Kebijakan BOP dan ART, Dinilai Belum Cerminkan Amanah Konstitusi

Berita Terbaru